KULTUR SEKOLAH
Nama : Rina Surya Afsah
Nim : 12001249
Kelas : 4G/PAI
Makul: Magang 1
KULTUR SEKOLAH
1. Pengertian Kultur sekolah
"Kultur" pada mulanya datang dari disiplin ilmu Antropologi Sosial. Apa yang tercakup dalam definisi budaya sangatlah luas. Istilah kultur dapat diartikan sebagai totalitas pola perilaku,kesenian, kepercayaan,kelembagaan,dan semua produk lain dari karya dan pemikiran manusia yang mencirikan kondisi suatu masyarakat atau penduduk yang di tranmisikan bersama. Dalam kamus besar bahasa Indonesia,budaya (cultural) diartikan sebagai pikiran, adat istiadat, sesuatu yang sudah berkembang, sesuatu yang menjadi kebiasaan yang sukar diubah. Dalam pemakaian sehari-hari, orang biasanya mensinonimkan pengertian budaya dengan tradisi (tradition). Dalam hal ini tradisi diartikan sebagai ide-ide umum,sikap dan kebiasaan dari masyarakat yang nampak dari perilaku sehari-hari yang menjadi kebiasaan dari kelompok dalam masyarakat tersebut. Deal dan Kent mendefinisikan "kultur sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan sebagai warga suatu masyarakat". Menurut definisi ini, suatu sekolah dapat saja memiliki sejumlah kultur dengan satu kultur dominan dan sejumlah kultur lainnya sebagai subordinasi. Sejumlah keyakinan dan nilai di sepakati secara luas disekolah dan sejumlah kelompok memiliki kesepakatan terbatas dikalangan mereka tentang keyakinan dan nilai-nilai tertentu. Stolp dan Smith menyatakan :
"Kultur sekolah adalah suatu pola asumsi dasar hasil invensi,penemuan oleh suatu kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah yang berhasil baik serta dianggap valid dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara yang dianggap benar dalam memandang, memikirkan,dan merasakan masalah-masalah tersebut."
Jadi, kultur sekolah merupakan kreasi bersama yang dapat dipelajari dan teruji dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi sekolah dalam mencetak lulusan yang cerdas, terampil,mandiri dan bernurani.
Dalam organisasi sekolah, hakikat nya terjadi interaksi antara individu sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing dalam rangka mencapai tujuan bersama. Tatanan nilai yang telah dirumuskan dengan baik berusaha diwujudkan dalam berbagai perilaku keseharian melalui proses interaksi yang efektif. Kultur sekolah merupakan budaya sekolah yang dapat memberikan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat sekolah baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif sebagaimana karakteristik kultur tersebut. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Moerdiyanto yang menyatakan bahwa"Kultur sekolah terdiri dari kulit positif dan kultur negatif. Kultur politik adalah budaya yang membantu mutu sekolah dan mutu kehidupan warganya." Dalam pengertian mutu sekolah dan mutu kehidupan dapat dimaksudkan sebagai mutu yang berhubungan dengan kehidupan yang bernilai moralitas dan agamis masyarakat sekolah. Aktifitas siswa dalam kesehariannya tidak akan lepas dari ketertiban kultur sekolah pada proses bersikap,berbuat dan memandang bahkan berfikirnya. Mutu kehidupan siswa yang diharapkan adalah siswa yang memiliki prilaku baik dalam sudut pandang etika dan agama.
Kultur positif dan kuat memiliki kekuatan dan menjadi modal dalam melakukan pendidikan yang memperhatikan dimensi kecerdasan spiritual siswa dan perbaikan kondisi-kondisi agar dapat lebih kondusif terhadap tumbuh dan berkembangnya kecerdasan tersebut. Sedangkan kultur negatif adalah budaya yang bersifat anarkis,negatif,beracun,bias dan dominatif. Sekolah yang hanya melihat dan menargetkan hasil pendidikan yang berupa kemampuan intelegensi dan mengabaikan dimensi spiritual mengarah kepada terbentuk dan berkembangnya kecerdasan spiritual siswa. Kultur sekolah bersifat dinamis. Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sulit. Indentifikasi kultur sekolah kotter memberikan gambaran tentang kultur dengan melihat 2 lapisan. Lapisan pertama sebagian diamati dan sebagian lainnya tidak diamati. Dari pengelompokan ini maka dapat dipisahkan antara kultur yang dapat dilihat dengan yang tidak dapat dilihat,dan lapisan yang bisa diamati antar lain desain arsitektur gedung,tata ruang,desain eksterior sekolah, kebiasaan, peraturan-peraturan, cerita-cerita,kegiatan
upacara, ritual, simbol-simbol,logo,slogan, bendera, gambar-gambar yang di pasang, pada tanda-tanda yang dipasang,sopan santun,cara berpakaian warga sekolah. Sedangkan hal-hal dibalik itu tidak dapat diamati,tidak kelihatan dan tidak dapat dimaknai dengan segera. Kultur sekolah beroperasi secara tidak disadari oleh para pendukung nya dan telah lama diwariskan secara turun temurun. Kultur mengatur perilaku dan hubungan internal serta eksternal. Hal ini perlu dipahami dan digunakan dalam mengembangkan kultur sekolah. Nilai-nilai baru yang diinginkan tidak akan segera dapat beroperasi bila berhadapan/berbenturan dengan nilai-nilai lama yang telah berurat berakar akan dapat menghambat introduksi perilaku baru yang diinginkan. Stolp dan Smith [7] membedakan antara kultur sekolah dan iklim sekolah. Kultur sekolah merupakan hal-hal yang sifatnya historis dari berbagai tata hubungan yang ada dan hal-hal tersebut telah diinternalisasikan oleh warga sekolah. Sedangkan iklim sekolah berada di permukaan dan berisi persepsi warga sekolah terhadap aneka tata hubungan yang ada saat ini. Kultur sekolah memiliki tiga lapisan kultur yaitu:
a) Artifak di permukaan,
b) Nilai-nilai dan keyakinan di tengah, dan
c) Asumsi yang berada di lapisan dasar.
Artifak adalah adalah lapisan kultur sekolah yang paling mudah diamati, seperti misalnya aneka ritual sehari-hari di sekolah, berbagai upacara, benda-benda simbolik di sekolah, dan aneka ragam kebiasaan yang berlangsung di sekolah. Lapisan yang lebih dalam berupa nilai-nilai dan keyakinan yang ada di sekolah. Sebagian berupa norma-norma perilaku yang diinginkan sekolah, seperti slogan-slogan rajin pangkal pandai, air beriak tanda tak dalam, menjadi orang penting itu baik tetapi lebih penting menjadi orang baik, hormati orang lain jika anda ingin dihormati. Lapisan yang paling dalam adalah asumsi-asumsi yaitu simbol-simbol, nilai-nilai dan keyakinan yang tak dapat dikenali tetapi berdampak pada perilaku warga sekolah, seperti misalnya:
a) Kerja keras akan berhasil,
b) Sekolah bermutu adalah hasil kerja sama sekolah dan masyarakat, dan
c) Harmoni hubungan antar warga adalah modal bagi kemajuan
Komentar
Posting Komentar