Manajemen sekolah

 Nama : Rina Surya Afsah

Nim     : 12001249

Kelas   : 4G/PAI

Makul  : Magang 1

Dalam konteks pendidikan, memang masih ditemukan kontroversi dan inkonsistensidalam penggunaan istilah manajemen. Dalam perkembangannya istilah manajemen secarasubstansial disamakan dengan istilah administrasi. Perbedaan pada keduanya terletak pada ruanglingkupnya saja. Administrasi lebih luas ruang lingkupnya disbanding dengan manajemen.Keduanya menekankan pada tercapainya efisiensi dan efektivitas kerja untuk keuntungan yanglebih besar.MBS memiliki banyak pengertian, bergantung dari sudut pandang orang yangmengartikannya. Nurkholis (2003:1), misalnya, menjelaskan bahwa Manajemen BerbasisSekolah terdiri dari tiga kata, yaitu manajemen, berbasis, dan sekolah. Pertama, istilahmanajemen memiliki banyak arti. Secara umum manajemen dapat diartikan sebagai prosesmengelola sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan. Ditinjau dari aspek pendidikan,manajemen pendidikan diartikan sebagai segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaanproses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek,menengah maupun tujuan jangka panjang. Kedua, kata berbasis mempunyai kata dasar basisatau dasar. Ketiga, kata sekolah merujuk pada lembaga tempat berlangsungnya proses belajarmengajar. Bertolak dari arti ketiga istilah itu, maka istilah Manajemen Berbasis Sekolah dapatdiartikan sebagai segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan sumber daya yang berdasarpada sekolah itu sendiri dalam proses pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan yang telahditetapkan.Seperti halnya Nurkholis, Slamet PH (2001) mendefinisikan MBS dengan bertolak darikata manajemen, berbasis, dan sekolah. Menurut Slamet, manajemen berarti koordinasi danpenyerasian sumber daya melalui sejumlah input manajemen untuk mencapai tujuan atau untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Berbasis artinya “berdasarkan pada” atau “berfokuskan pada”.

Sedangkan sekolah merupakan organisasi terbawah dalam jajaran Departemen PendidikanNasional (Depdiknas)yang bertugas memberikan “bekal kemampuan dasar” kepada peserta.

Manajemen sekolah dapat diartikan segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek, menengah, maupun tujuan jangka panjang.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui manajemen sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan, dengan meliputi: (1) Perencanaan program sekolah; (2) Pelaksanaan program sekolah dan (3) Hambatan yang dihadapinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, teknik pengumpulan data dilakukan melalui pedoman wawancara, pedoman observasi, dan studi dokumentasi. Subjek penelitian adalah kepala sekolah, pengawas dan guru pada SD Negeri Sungai Gampa 2 Kabupaten Barito Kuala. Hasil penelitiannya ditemukan: (1) Perencanaan program sekolah mencakup: program pengajaran, meliputi: kebutuhan tenaga guru pembagian tugas mengajar, pengadaan buku-buku pelajaran, alat-alat pelajaran dan alat peraga, pengadaan atau pengembangan laboratorium sekolah, pengadaan atau pengembangan perpustakaan sekolah, sistem penilaian hasil belajar, dan kegiatan kurikuler; (2) Pelaksanaan program sekolah yaitu strategi yang diterapkan untuk tercapainya peningkatan mutu pendidikan, meliputi: sosialisasi program, analisis SWOT, pemecahan masalah, peningkatan mutu, dan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program sekolah; dan (3) Hambatan dalam perencanaan program sekolah, antara lain kurangnya partisipasi masyarakat dan kesulitan ekonominya sehingga dukungan mereka terhadap manajemen sekolah ikut rendah.

Manajemen berbasis sekolah adalah model pengelolaan yang memberikan otonomi yang lebih besar kepada kepala sekolah, memberikan fleksibilitas kepada sekolah, mendorong partisipasi secara langsung dari warga sekolah.

Manajemen berbasis sekolah adalah model pengelolaan sekolah dengan memberikan kewenangan yang lebih besar pada tingkat sekolah untuk mengelola sekolahnya sendiri secara langsung sehingga sekolah memiliki tanggung jawab dalam menentukan program-program sekolah. MBS merupakan bentuk reformasi desentralisasi yang mendorong adanya partisipasi demokratis.

Tujuan Utama MBS adalah meningkatkan efisiensi, mutu, dan pemerataan pendidikan. Peningkatan efisiensi diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber daya yang ada, partisipasi masyarakat, dan penyederhanaan birokrasi. Implementasi MBS menuntut dukungan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas agar dapat membangkitkan motivasi kerja yang lebih produktif dan memberdayakan otoritas daerah setempat, serta mengefisiensikan sistem dan menghilangkan birokrasi yang tumpang tindih.MBS memberi peluang pada kepala sekolah dan guru serta peserta didik untuk melakukan inovasi dan improvisasi di sekolah, berkaitan dengan masalah kurikulum, pembelajaran, manajerial, dan lain sebagainya yang tumbuh dari aktivitas, kreativitas dan profesionalisme yang dimiliki.

Kewenangan yang bertumpu pada sekolah merupakan inti dari MBS yang dipandang memiliki tingkat efektivitas tinggi serta memberikan beberapa keuntungan berikut:

1. kebijakan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada peserta didik, orang tua, dan guru

2. bertujuan bagaimana memanfaatkan sumber daya lokal

3. efektif dalam melakukan pembinaan peserta didik seperti,kehadiran, hasil belajar, tingkat pengulangan, tingkat putus sekolah, moral guru, dan iklim sekolah.


Efektivitas penerapan MBS berpijak pada 6 hal berikut ini: [5]

1. Otonomi, fleksibilitas dan responsiviats

2. Direncanakan oleh kepala sekolah dan komunitas sekolah

3. Penerapan atau adaptasi aturan baru oleh kepala sekolah

4. Partisipasi dari lingkungan sekolah

5. Kolaborasi antar staff

6. Hubungan baik antara kepala sekolah dan guru

Karakteristik MBS

1. Sekolah memiliki output yang diharapkan

2. Proses manajemen memiliki ciri ciri sebagai berikut:

1. Memiliki efektivitas KBM yang tinggi

2. Kepemimpinan sekolah yang kuat

3. Lingkungan sekolah yang aman dan tertib

4. Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif

5. Sekolah memiliki budaya mutu

6. Sekolah memiliki teamwork yang kompak, cerdas, dan dinamis

7. Sekolah memiliki kewenangan (kemandirian)

8. Partisipasi yang tinggi dari warga sekolah dan masyarakat

9. Sekolah memiliki keterbukaan (transparansi manajemen)

10. Sekolah memiliki kemauan untuk berubah (psikologis dan fisik)

11. Sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan

12. Sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan

13. Sekolah memiliki akuntabilitas dan komunikasi yang baik

14. Sekolah memiliki manajemen lingkungan hidup yang baik

15. Sekolah memiliki kemampuan menjaga sustainabilitas

3. Input pendidikan:

- Memiliki kebijakan, tujuan, dan sasaran mutu yang jelas

- Sumberdaya tersedia dan siap

- Staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi

- Memiliki harapan prestasi yang tinggi

- fokus pada manajemen dan pelanggan (khususnya siswa)






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Bahasa Indonesia

KULTUR SEKOLAH